Pemakai Senyum (Ceritapendeksekali)

Rasanya aku cukup penasaran terhadap orang-orang yang hobinya memasang senyum pada wajah mereka. Apa mereka senang dengan hidup mereka? Apa mereka cukup bahagia? Kenapa senyum-senyum itu tidak pernah lepas dari wajah-wajah yang kelelahan itu? Seolah keriput-keriput lelah tidak sanggup membuat wajah-wajah mereka menjadi tidak berseri.
Padahal aku tahu beberapa dari mereka gajinya bahkan tidak cukup untuk makan dua orang dengan standarku. Beberapa dari mereka ada yang bangun lebih dulu sebelum toa masjid subuh dinyalakan, sudah bekerja, sementara para muda yang hidupnya lebih beruntung bahkan belum tidur dan hanya berputar dalam wacana angan-angan besarnya di lingkaran obrolan malam tidak berguna.
Lalu tadi pagi, aku lihat kucing liar tidur di laci meja gudang kantor. Indukan, baru melahirkan. Kelihatannya hanya dua bayinya yang bertahan, mereka berbaring di hamparan bulu-bulu tebal sang induk.
Aku juga penasaran. Kucing itu, yang hanya tidur di dalam laci meja tidak terpakai untuk menghangatkan badan, dengan satu helai kain kecil yang sepertinya diberikan salah satu pegawai di sini, apa dia cukup senang dengan hidupnya? Apa nyaman bisa ia temukan dengan berbaring di tempat buruk seperti itu? Bukankah dia induk baru yang belum lama kehilangan beberapa bayi? Bagiku dia terlihat terlalu santai paling tidak jika perbandingannya adalah aku. Apa merasa santai adalah standar hidup paling biasa untuk kucing liar sekalipun?
Kalau mereka yang kutemui itu cukup bahagia, ingin aku jadi murid. Ingin aku jadi pemakai senyum ulung seperti mereka setiap hari.
Komentar (0) 💬
Belum ada komentar. Mari aja lah kalau mau komeng, aku sule.
Balas komentar ✍️